Pusat rehabilitasi yakum terletak di jalan kaliurang seputaran besi, di sana banyak cerita terukir, karena empat bulan aku dirawat untuk mendapatkan rehabilitasi agar kondisiku sesudah gempa bisa kembali baik. Ada banyak kenangan susah, sedih, tertawa, semua berbaur jadi satu. Hari-hari pertama  disana kulalui dengan tangis karena aku belum terbiasa dengan kondisiku dan kondisi di yakum.
Ketika aku memutuskan untuk masuk di pusat rehabilitasi yakum,  aku berharap bahwa di yakum aku akan mendapat perawatan dan sembuh.  Kebetulan waktu itu memang banyak yang mendapatkan kemajuan setelah terapi di sana, walaupun akhirnya aku jadi tahu bahwa  pusat rehabilitasi maksudnya  adalah tempat dimana seseorang yang baru saja mengalami kecacatan akan mendapatkan rehabilitasi sehingga mereka bisa hidup mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Awal aku disana langsung diperiksa oleh beberapa dokter syaraf, kemudian mereka memberikan diagnosa kalau kondisiku masuk taraf parapharese, tapi tak berapa lama kemudian ganti lagi jadi paraplegi.

Aku bingung dengan istilah-istilah itu, kemudian kutanyakan pada seorang relawan perawat baru kemudian aku tahu masing-masing maksud dari istilah parapharese dan paraplegi. Tapi kemudian menjadi akrab karena panggilan kami jadi pasien paraplegi.


Paraplegi adalah tingkat kerusakan syaraf dimana kaki pada kondisi tidak terasa dan tidak dapat untuk diangkat paling Cuma bisa digerakkan sedikit-sedikit. Aku masih beruntung daripada yang paraplegi in complet. Untuk yang taraf ini kaki benar-benar tidak dapat digerakkan sama sekali, tapi apapun vonisnya baik parapharese, paraplegi dan paraplegi in complet tetap saja akan bergantung dengan kursi roda.
Hari-hariku kulalaui dengan rutinitas yang sudah terjadwal dari pihak pengelola, pagi jam-jam 05.30 WIB waktunya berjemur bagi yang mau, karena udara pagi dan matahari di pagi hari cukup bagus untuk penyembuhan tulang. Jam 08.00 WIB aku harus terapi, sehabis terapi baru istirahat, dan jangan lupa PR dari dokter Thomas. PR nya miring kanan 2 jam, miring kiri 2 jam, telentang 2 jam dan tengkurap 2 jam ini dilakukan biar badan tidak mengalami dikubitus, luka akibat tekanan sehingga daging jadi membusuk. Siang jam 14.00 WIB ikut OT (operasional terapi) isinya ya terapi bagaimana caranya pakai baju, bagaimana memasak, bagaimana mencuci, dan lain-lain. Hari minggu terapi libur tapi pagi ikut senam dilapangan, alhasil ya tangan kami yang bergerak. Bagi yang tidak ikut senam ada stretching bersama-sama di bangsal. Biasanya aku adalah pasien paling rewel untuk yang ini, karena aku tidak suka stretching habisnya sakit, dan aku biasanya kemudian kabur keluar kamar pakai kursi roda, sayangnya mas fisioterapisnya sabar nunggu aku balik lagi ke bangsal, jadinya ya tetap di stretching.
Di waktu luang kami, ya duduk-duduk diluar liat orang lewat, guyonan dengan teman-teman, paling cari makan di luar kalau lagi pengen.
Kalau ingat itu aku jadi kangen sama relawan perawat dan fisioterapiku, mereka adalah orang-orang yang selalu menenangkan kami dan memotivasi kami, bahwa hidup tidak berakhir sampai disini, bahwa hidup masih panjang yang harus dilalui ….
Mbak nita, mas joko, mas maman dimana kalian aku kangeeeen…. Aku pengen kalian tahu apa yang kalian usahakan dulu, sekarang aku sudah bisa jalan tanpa alat Bantu, bisa jongkok biar masih harus pegangan tapi jangan kalian suruh aku lari, karena bukannya lari malah gedebruuk jatuh deh…
tapi suamiku adalah terapisku yang paling hebat dan paling galak.