Ini adalah pertemuanku yang pertama. Aku bertemu dengan temanku parapleghy kemarin, ada perasaan yang teriris dalam hatiku melihat keadaan dia saat ini. Ingin meneteskan air mata ketika aku harus mendengar cerita-cerita dia tentang rumah tangganya, tapi aku sendiri tidak bisa untuk memberikan solusi atas keadaannya.
Aku jadi terkenang dengan kisahku waktu aku jadi pasien parapleghy, aku sangat memahami kenapa rumah tangga pasien parapleghy akibat gempa kemarin kebanyakan jadi tidak bahagia, Dulu waktu aku belum seperti sekarang semua itu juga kualami, tapi aku mencoba untuk terus mencari solusi apa yang terbaik untuk terus memperjuangkan rumah tangga kami bersama suamiku.


Yang ku lakukan pertama kali adalah belajar untuk menerima kondisi yang Alloh beri untuk aku, kemudian belajar untuk memahami bahwa suamiku juga punya rasa capek ketika mengurusi aku, sehingga itu mendorongku untuk mencoba mandiri melakukan hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan pribadiku, seperti mandi, makan, berpakaian, dan tak lupa mendandani diriku semampuku.
Selanjutnya adalah berbicara dengan suamiku agar suamiku tahu bahwa aku belum bisa untuk menikmati hubungan selayaknya suami istri, dan berusaha untuk tetap memberikan yang terbaik untuk suami, sekaligus diniatkan untuk melatih syaraf-syaraf, dengan berusaha untuk memerintahkan otak agar konsentrasi dengan hubungan itu.

Selanjutnya adalah peran suamiku untuk terus mengajari dan mendampingi aku untuk bisa menyesuaikan dengan keadaanku dan belajar kembali untuk bisa mengerjakan kegiatan-kegiatan rumah tangga seperti memasak, mencuci dan yang lainnya. Yang pertama ku lakukan adalah belajar mencuci baju yang ringan-ringan, lama-lama bajuku pun bisa untuk kucuci. Dan tidak lupa aku dan suami teus melakukan kegiatan terapi, walaupun tanpa fisioteraphis,

Suamiku selalu mendorongku agar aku tidak tergantung dengan alat bantu, begitu aku bisa pakai wallker, maka kursi roda harus ditinggalkan. krek sudah bisa, wallker ditinggalkan hingga akhirnya aku bisa pakai tongkat dan akhirnya aku bisa berjalan mandiri tanpa alat bantu.

Yang kuyakini ketika kita bisa bersyukur dari sesuatu yang sedikit, insyaalloh Alloh akan menambah nikmatnya.

Pertemuanku yang kedua adalah ketika aku bertemu dengan teman sekaligus saudaraku saat dia berjuang menunggui anaknya yang masih berusia 2,5 tahun dalam kondisi  koma. Ada banyak hikmah yang bisa aku ambil waktu melihat itu. Bagaimana keikhlasan adalah hal yang terpenting dalam menghadapi cobaan hidup. Berikhtiar untuk mendapatkan kesembuhan, walaupun harapan untuk sembuh sudah sangat tipis, dokterpun sudah tidak punya harapan lagi untuk membantu. Maka keyakinan bahwa Alloh adalah tempat berserah dan pemberi kesembuhan menjadi hal yang utama.